TUMPEK LANDEP–LANDUHING IDEP: RESEARCH METHOD UNTUK MENJAGA KETAJAMAN INTELEGENSI DAN INTELEKTUAL 

  • Dibaca: 608 Pengunjung

IB. Purwa Sidemen, S.Ag.,M.Si, Dosen Program Studi Pendidikan Agama Fakultas Pendidikan – Universitas Hindu Indonesia Denpasar

oleh

IB. Purwa Sidemen, S.Ag., M.Si.

 

Saniscara Kliwon Landep, Sabtu 18 Juli 2020, hari ini merupakan hari istimewa. Hari yang bermakna kesucian, hari keramat, dibarengi dengan berbagai upacara ritual dalam rangka memohon keselamatan dari Sang Hyang Siwa Pasupati. Hari suci ini dikenal dengan sebutan hari Tumpek Landep, sebagai hari memuja kekuatan Tuhan pada manifestasi beliau sebagai Siwa Pasupati. Hari raya Tumpek Landep juga diyakini sebagai hari turunnya pengetahuan suci, intelegensi serta proteksi bagi umat Hindu Bali dari segala hal yang merugikan dan membahayakan.

Memaknai setiap hari-hari suci bagi umat Hindu di Bali, menjadikan umat Hindu Bali tiada henti menyampaikan wujud syukur atas segala limpahan-NYA. Alam dan manusia Bali, sebagai Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit adalah kesatuan semesta yang keberadaannya saling mengikat. Keagungan alam dimaknai sebagai rahmat dan limpahan sumber kehidupan bagi manusia Hindu Bali. Demikian juga sebaliknya manusia Hindu Bali memiliki peran penting dalam siklus alam melalui ritual-ritual keagamaan yang semuanya berintikan wujud syukur, menghormati, memelihara, dan menjaga serta melestarikan alam itu sendiri. Kitab suci Weda dan lontar-lontar ajaran suci lainnya di Bali, sebagai sumber segala pengetahuan alam ini, menuntun umat Hindu Bali menjalani hidup dengan memakai Tri Pramana-nya. Tri Pramana adalah tiga kekuatan hidup untuk mengetahui dan meyakini sesuatu. Ketika pencarian dan pemahaman IPTEK di alam 'modern' dapat ditempuh melalui jalan riset. Tri Pramana adalah wujud komprehensif dari apa yang disebut 'research method' untuk mencari dan menemukan kebenaran ilmiah melalui tahapan prediksi dan asumsi untuk menemukan kebenaran sesuatu. Pengejawantahan Tri Pramana merupakan pergulatan ontologi, epistemonologi dan aksiologi dalam konteks pencarian kebenaran dalam riset 'modern' ala western

Tri Pramana adalah tiga jalan (cara) untuk mengetahui kebenaran. Tri Pramana dibagi menjadi dua penjelasan yakni Tri Pramana sebagai kekuatan mahluk hidup pada diri manusia dan sumber pengetahuan itu sendiri. Tiga kekuatan mahluk hidup tersebut meliputi; bayu, kekuatan nafas; sabda,  kekuatan suara; dan idep; kekuatan pikiran. Ketiga bagian pada Tri Pramana tersebut dimiliki oleh manusia sebagai makhluk yang paling sempurna untuk mengetahui hakekat kebenaran (dharma), baik nyata maupun yang tidak nyata. Sumber pengetahuan itu sendiri adalah Praktyaksa Pramana, Anumana Pramana, dan Agama Pramana. Dalam konteks yang utama, Tri Pramana merupakan cara untuk mengetahui kebenaran mutlak dan dalam hal ini Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan).

Hari suci Tumpek Landep merupakan simbolis bahwa umat manusia, khususnya manusia Hindu Bali kembali diingatkan untuk mempertajam, memperkokoh keimanan atas pengetahuan, intelegensi, dan intelektual, dengan sujud kehadapan sang pencipta melalui ritual perayaan hari Tumpek Landep. Manusia adalah makhluk yang lemah dibanding makhluk lain di muka bumi ini, namun dengan idep (pikiran/akal budi) dan kemauannya yang luar biasa kuat maka manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia dapat hidup dengan lebih baik.

Melalui hari suci Tumpek Landep, manusia Hindu Bali kembali menjaga ketajaman intelegensi dan intelektualnya. Hal ini sangat penting untuk tetap berada pada jalan kebenaran (dharma). Ketajaman intelegensi dan intelektual bila tidak dijaga dan dipertahankan dengan berpegang pada ajaran kebenaran (dharma) maka akan sangat berbahaya. Kenapa intelegensinya perlu dijaga? Karena intelegensi merupakan kekuatan kecerdasan dan kemampuan daya reaksi atau penyesuaian yang cepat dan tepat, baik secara fisik maupun mental, terhadap pengalaman baru. Intelegensi membuat pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki siap untuk dipakai apabila dihadapkan pada fakta atau kondisi baru. Sedangkan intelektual, juga adalah kecerdasan (mempunyai kecerdasan tinggi), berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan. Kecerdasan tinggi yang dimiliki manusia merupakan bentuk totalitas pengertian atau kesadaran, terutama yang menyangkut pemikiran dan pemahaman. Bila kedua hal penting ini tidak dijaga ketajamannya maka akan membawa dampak yang tidak baik bagi keberlangsungan hidup umat manusia. Menjaga akal budi (intelegensi dan intelektual) merupakan bentuk mempertahankan terciptanya kedamaian, keamanan dan kemakmuran (landuh) dalam keberlangsungan hidup umat manusia. Pada perayaan Tumpek Landep ini, umat manusia diingatkan untuk menjaga dengan baik sumber kehidupan baik yang ada pada diri manusia itu sendiri (Tri Pramana) maupun cara mendapatkan dari sumber pengetahuan itu sendiri.

Umat Hindu di Bali, bentuk ketajaman pikiran manusia disimbolkan dengan keris. Keris merupakan benda yang diyakini memiliki kekuatan luar biasa. Memang tidak semua keris demikian. Hal ini bisa dibuktikan dari proses pembuatan keris tersebut, bahwa para Empu sebagai pembuat keris bertuah jaman dahulu memiliki kemampuan dalam penguasaan ilmu pengetahuan yang tinggi. Kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan tinggi ini identik dengan teknologi tinggi atau kemampuan luar biasa pada saat ini. Membaca sejarah kerajaan-kerajaan besar di Nusantara termasuk di Bali, keris merupakan simbol kekuatan. Keris merupakan simbol dari status seseorang dalam kedudukannya di sebuah kerajaan. Juga merupakan penanda tingkat penguasaan dalam ilmu perang, kadigjayan, kekuasaan, dan sebagainya. Keris bisa menjadi simbol penguasaan luasan wilayah yang dikuasai oleh sebuah kerajaan. Demikian besar arti dari sebuah keris yang dimiliki dan diwariskan oleh leluhur kita di Nusantara ini. Dalam perkembangan selanjutnya, teknologi juga merupakan simbol kekuatan dan kekuasaan. Oleh karena itu, teknologi sebagai sarana dalam menjalankan roda kehidupan saat ini, yang bergerak serba cepat dan mencapai semua tempat pada waktu yang bersamaa  (luar biasa cepat), menjadikan manusia harus tetap waspada. Menjaga ketajaman intelegensi dan intelektual adalah jalan untuk tetap mawas diri, tidak terlindas dan terlibas oleh pengetahuan karena ilmu pengetahuan juga bisa disalahgunakan. Dengan turunnya kekuatan Siwa Pasupati pada hari Tumpek Landep ini, semoga ketajaman intelegensi dan intelektual manusia tetap terjaga pada jalan kebenaran (dharma) sehingga tercipta kedamaian, keamanan dan kemakmuran (landuh) yang menyertai sepanjang hidupnya. Ketajaman intelegensi dan intelektual dapat diasah dengan memahami dan menjalankan konsep yang terkandung dalam Tri Pramana sebagai sebuah 'research method' versi umat Hindu yang terimplementasi di hari suci tumpek landep.

Rahajeng Rahina Tumpek Landep

  • Dibaca: 608 Pengunjung